Busurnyabernama Gandiwa, pemberian Dewa Baruna ketika ia hendak membakar hutan Kandawa. Ia juga memiliki sebuah terompet kerang (sangkala) bernama Dewadatta, yang berarti "anugerah Dewa" XII. 2/103 : Wuwusira sang hyang īśwara mijil tang apuy ri tangan Dimana dari tangan Dewa Siwa keluar api dan berubah menjadi raksasa, kemudian
Satriyasetengah dewa setengah manungsa iki diomongke Bathara Baruna (dewa nguwasani samudra) lan Hyang Antaboga (raja ula kang urip ing dhasar bumi). Dheweke bisa mabur, ambles bumi lan urip ing laut. Dheweke urip ing kahyangan Daksinapati bareng ibune. Sektine Ngluwihi liyane. Wisanggeni raket karo Antasena. Loro-lorone uga ora melu Bharatayudda.
Dewamengijinkan pernikahan itu dengan syarat mereka tidak boleh punya anak. Oleh karena itu, para dewa menganggap kelahiran wisanggeni sebagai menyalahi kodrat. Sebagai pengatur kehidupan dewa dapat melakukan apa saja, akan tetapi - Dewa Brahma misalnya - tidak dapat membunuh bayi kecil hasil perkawinan Arjuna dan Dresanala tersebut, cucunya.
BendesaDesa Pakraman Kusamba, AA Raka Swastika menjelaskan Ngusaba Nini di Pura Segara Kusamba sejatinya sebagai ungkapan syukur ke hadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa dalam prabhawa-nya sebagai Batara Segara (Baruna) dan Batari Sri Nini (Dewi Sri) atas karunia melimpah sepanjang tahun sebelumnya."Kenapa dilaksanakan di Pura Segara karena di Kusamba banyak krama hidup dari laut.
ParaDewa (Ida Bhatara) diiring kembali ke Jaba Pura. Di sini Pemangku memohon agar Bhatara Baruna berkenan ngaded dan nyejer di Kahyangan Agung karena akan dipersembahkan Pujawali. Dengan saa yang diiringi dengan genta Pemangku mohon kepada semua Dewa agar terhindar dari segala marabahaya dan bersih dari segala noda.
Wisanggenitumbuh dibesarkan oleh Batara Baruna (Dewa Penguasa Lauatan) dan Hyang Antaboga (Rajanya Ular yang tinggal di dasar bumi), yang menjadikan Wisanggeni punya kemampuan yang luar biasa. Di jagat pewayangan, dia bisa terbang seperti Gatotkaca dan masuk ke bumi seperti Antareja dan hidup di laut seperti Antasena.
. BerandaSang Hyang Baruna Sang Hyang "Bhatara"; "Dewa" Baruna Waruna adalah Dewata penguasa lautan / segara. Baruna sebagai dewata penguasa lautan yang juga sering disebut sebagai Dewa Samudra yaitu penguasa pantai selatan. Menurut kepercayaan orang Bali, segala penyakit dan hama bersumber dari laut selatan ini yang dikuasai oleh Dewa Laut, Sang Hyang Baruna; Dari laut selatan itulah dahulu pernah disebutkan segala hama penyakit disebarkan oleh Ratu Gde Mecaling, sehingga sampai saat ini di Bali tetap dilaksanakan upacara Nangluk Merana untuk menangkal atau mengendalikan gangguan - gangguan yang dapat membawa kehancuran atau penyakit pada tanaman yang disebarkan melalui laut. Dengan kekuatan kesucian Bhetara Baruna yang merupakan salah satu dari asta dewata yang dalam merajan, Dipuja melalui palinggih Bhatara Baruna dengan Bhiseka Lebuh yaitu sebagai sakti dari Bhatara Wisnu untuk menguasai lautan; Maka sepatutnyalah kita disebutkan dalam melaksanakan berbagai upacara yadnya yang berhubungan dengan laut untuk dapat memohon ijin terlebih dahulu kepada Beliau seperti ngulapin di segara saat nyekah sebelum melaksanakan upacara pitra yadnya sebagai penghormatan kepada para leluhur kita. Sang Hyang Baruna sebagai Dewa Samudera dalam Serat Rama Jarwa Macapat, Nitisruti dan Ramayana Kakawin Jawa Kuna dalam kutipan artikel rumah sanjiwani sebagaimana juga diungkapkan oleh Prof. DR. Marsono dalam sarasehanya, Sifat Samudera bisa menampung seluruh air sungai dengan segala sesuatu yang ikut mengalir di dalamnya. Namun samudera tidak akan pernah tumpah. Hyang Baruna seperti samudera bisa menampung apa saja yang jelek ataupun baik. Ia sabar dan berwawasan sangat luas, seluas samudera. Dalam kitab Weda dalam pusat eksklopedia dunia, Dewa Baruna disebutkn juga sebagai penguasa hukum alam amat sering dipuja, antara lain sebagai Dewa pelindung. Mantra untuk Dewa Baruna Agnum su tubhyam varuna svadhavo,hrdi stoma upasritas cid astu sam nah kseme sam u yoge no astu,yuyam pata svastibhih sada nah Arti Semoga pujaan ini berkesan pada-Mu, O Waruna yang bebas; Semoga kami selamat dalam beristirahat, semoga kami selamat dalam bekerja; Lindungilah kami dengan berkahmu ***
hyang baruna dewa baruna